Kenapa Terjadi Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan?

Posted by & filed under .

Sering kali di Negara kita ini terjadi perbedaan dalam menetapkan awal puasa, kenapa bisa terjadi, ini dikarenakan perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan. Ada dua metode yangs sering digunakan dalam penentuan awal bulan yaitu hisab dan rukyah. Berikut ini ada artikel lengkap yang membahas mengenai Hisab dan Rukyah secara detail.

 

PENGERTIAN HISAB

HISAB berasal dari bahasa Arab “hasaba” artinya menghitung, mengira dan membilang. Jadi hisab adalah kiraan, hitungan dan bilangan. Kata ini banyak disebut dalam al-Quran diantaranya mengandung makna perhitungan perbuatan manusia. Dalam disiplin ilmu falak (astronomi), kata hisab mengandung arti sebagai ilmu hitung posisi benda-benda langit. Posisi benda langit  yang dimaksud di sini adalah lebih khusus kepada posisi matahari dan bulan dilihat dari pengamat di bumi. Hitungan posisi ini penting dalam kaitannya dengan syariah khususnya masalah ibadah misalnya; shalat fardu menggunakan posisi matahari sebagai acuan waktunya, penentuan arah kiblat dengan menghitung posisi bayangan matahari, penentuan awal bulan hijriyah dengan melihat posisi bulan dan mengetahui kapan terjadi gerhana dengan menghitung posisi matahari dan bulan. Ilmu Falak yang mempelajari kaidah-kaidah Imu Syariah tersebut dinamakan Falak Syar’i  (Ilmu Falak + Ilmu Syariah = Falak Syar’i).  Di Indonesia nama yang populer adalah Falak saja.

Jenis hisab dalam Falak

Hisab Falak meliputi beberapa perhitungan astronomis khusus menyangkut posisi bulan dan matahari untuk mengetahui kapan dan di permukaan bumi mana peristiwa astronomis itu terjadi. Hisab  yang berkembang awalnya hanya hisab terhadap awal bulan komariyah atau hijriyah. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hisab berkembang dan menghasilkan beberapa macam hisab yang tentunya masih juga berkaitan dengan ibadah yaitu:

  •     Hisab Awal Bulan Komariyah / Hijriyah
  •     Hisab Waktu Shalat dan Imsakiyah
  •     Hisab Arah Kiblat
  •     Hisab Gerhana Matahari dan Bulan
  •     Hisab Konversi Penanggalan Hijriyah – Masehi
  •     Hisab Posisi Harian Matahari dan Bulan
  •     Hisab Visibilitas Hilal dari sebuah tempat
  •     Hisab Fase-fase Bulan
  •     Hisab Saat Peneraan Arah Kiblat berdasarkan Bayangan matahari dsb.

Sistem hisab dalam Falak

Terdapat banyak metode hisab (sistem hisab) untuk menentukan posisi bulan, matahari dan benda langit lain dalam ilmu Falak.  Sistem hisab ini dibedakan berdasarkan metode yang digunakan berkaitan dengan tingkat ketelitian atau hasil perhitungan yang dihasilkan.

■ Hisab Urfi (`urf = kebiasaan atau tradisi) adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada sistem hisab ini perhitungan bulan komariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam setahun komariyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah 30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah (bulan 12) pada tahun kabisat komariyah berumur 30 hari.  Tahun kabisat komariyah memiliki siklus 30 tahun dimana didalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari, dan 19 tahun yang disebut basithah (pendek) memiliki 354 hari. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke 29 dari keseluruhan siklus kabisat selama 30 tahun. Dengan demikian kalau dirata-rata maka periode umur bulan (bulan sinodis / lunasi) menurut Hisab Urfi adalah (11 x 355 hari) + (19 x 354 hari) : (12 x 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit ( menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ). Walau terlihat sudah cukup teliti namun yang jadi masalah adalah aturan 29 dan 30 serta aturan kabisat tidak menujukkan posisi bulan yang sebenarnya dan hanya pendekatan. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.

■ Hisab Taqribi ( taqrobu = pendekatan, aproksimasi ) adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia. hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtimak dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori Hisab Taqribi misalnya; Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah dsb.

■ Hisab Haqiqi ( haqiqah = realitas atau yang sebenarnya )  menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik menggunakan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna atau teliti karena banyak bilangan yang terpotong akibat digit kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan  Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah,  Al Khushah al Wafiyah,  dsb.

■ Hisab Haqiqi Tahqiqi ( tahqiq = pasti ) sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat “pasti”. Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat “pasti” itu tentunya harus bisa dibuktikan secara ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Namun sejauh mana hasil hisab tersebut telah dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga mendapat julukan “pasti” ini yang menjadi pertanyaan. Sedangkan perhitungan astronomis modern saja hingga kini masih menggunakan angka ralat (delta T) dalam setiap rumusnya.  Namun demikian hal ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software/program komputer yang siap pakai.  Beberapa diantara sistem hisab tersebut misalnya : Al Falakiyah, Nurul Anwar,

■ Hisab Kontemporer / Modern

Sistem hisab ini yang menggunakan alat bantu komputer yang canggih menggunakan rumus-rumus yang dikenal dengan istilah algoritma. Beberapa diantaranya terkenal terkenal karena memiliki tingkat keterlitian yang tinggi sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantara :  Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse,  dsb.   dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Jean Meeus, New Comb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan banyak software-software falak yang lain.

Para pakar falak dan astronomi  selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang ‘pasti /qat’i ”. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan, gerhana matahari, gerhana bulan, kenampakan planet dan komet, posisi bintang dan peristiwa astronomis yang lain.

PENGERTIAN RUKYATUL HILAL

RUKYAT berasal dari bahasa Arab ” ra’a – yara – rukyat ” yang artinya ” melihat “. HILAL juga berasal dari bahasa Arab “al-hilal – ahillah” yaitu bulan sabit  (crescent) yang pertama terlihat setelah terjadinya ” ijtimak “.  Ijtimak adalah bulan baru (new moon) disebut juga bulan mati. Ijtimak terjadi saat posisi bulan dan matahari berada pada jarak paling dekat. Secara astronomis, saat ijtimak terjadi maka bujur ekliptik bulan sama dengan bujur ekliptik matahari dengan arah penglihatan  dari pusat bumi (geosentris). Pada waktu tertentu peristiwa ijtimak juga ditandai dengan terjadinya gerhana matahari yaitu saat lintang ekliptik bulan berimpit atau mendekati lintang ekliptik matahari. Periode dari peristiwa ijtimak ke ijtimak berikutnya disebut “bulan sinodis” yang lamanya 29 hari 12 jam, 44 menit 2,8 detik.

Hilal yang terlihat di langit Barat beberapa saat setelah matahari terbenam merupakan tanda awal bulan komariyah

Maka yang disebut Rukyatul Hilal adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan pengamatan secara visual baik menggunakan mata langsung maupun dengan bantuan alat terhadap kemunculan hilal. Penggunaaan alat bantu visual seperti teleskop, binokuler, kamera Dalam Islam, terlihatnya hilal di sebuah negeri dijadikan pertanda pergantian bulan kalender Hijriyah di negeri tersebut.  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

” Mereka bertanya kepada engkau tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadat) haji”   ( QS.  Al Baqarah: 189 )

Hilal juga dijadikan pertanda mulainya ibadah puasa Ramadhan yang sudah dipakai sejak jaman nabi waktu itu, sebagaimana hadits yang menyatakan :

 “Berpuasalah engkau karena melihat hilal dan berbukalah engkau karena melihat hilal.  Bila hilal tetutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari”    -  (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika merujuk pada Hadis Nabi tentang puasa, hilal dapat diterjemahkan sebagai sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah ijtimak terjadi. Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi jika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama.

Hisab dan Rukyatul hilal tidak bisa dipisahkan dari Ilmu Falak/Astronomi oleh sebab itu kebanyakan peralatan hisab dan rukyat juga merupakan peralatan Ilmu falak/Astronomi. Idealnya rukyatul hilal atau melihat hilal dilakukan dengan mata telanjang (naked eye) sesuai dengan pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya. Asal kita tahu teknik dan ilmunya maka rukyat dengan mata telanjang menjadi jauh lebih efektif dibandingkan menggunakan peralatan bantu optik.  Sebab yang paling penting adalah kualitas sumber daya manusianya bukan pada alatnya.

Kontroversi boleh tidaknya menggunakan alat bantu dalam melakukan rukyatul hilal memang masih terdengar, namun menurut beberapa ulama sah-sah saja menggunakan alat bantu asal tidak menyimpang dari hakikat rukyatul hilal yaitu menyaksikan langsung lahirnya hilal (bulan sabit muda). Penggunaan peralatan optik maupun peralatan pencari lokasi sebatas digunakan untuk membantu mempermudah pelaksanaan rukyatul hilal tidak menyalahi ketentuan yang ada termasuk barangkali penggunaan teknologi penginderaan jarah jauh menggunakan infra merah, radar maupun satelit palacak. Beberapa peralatan/instrument yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaksanaan rukyat yang nantinya juga termasuk item yang akan dilaporkan dalam lembar laporan pelaksanaan rukyat  [ klik disini ] diantaranya :

█  Alat Hitung / Hisab

Alat hitung sangat berguna dalam membantu melakukan hisab sebagai bahan persiapan rukyatul hilal. Beberapa data yang harus dipersiapkan sebelum melakukan rukyat misalnya : waktu ijtimak, saat matahari terbenam, ketinggian  dan posisi hilal, saat terbenamnya hilal dsb. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk orientasi letak /posisi hilal di tempat rukyat. Ketelitian terhadap hasil perhitungan sangat dipengaruhi juga oleh alat hitung yang digunakan. beberapa jenis alat hitung itu misalnya:

Rubuk Mujayyab

Siapa akan mengira bahwa rubuk mujayyab, benda seperempat lingkaran yang memiliki garis-garis dan terdapat benang serta bandul ini merupakan alat bantu hitung falak. Dengan rubuk perhitungan rumus-rumus trigonometri menjadi mudah. Sinus, cosinus, tangen dan cotangen dapat dilesesaikan secara cepat menggunakan rubuk ini.  Sebagai alat peninggalan peradaban falak Islam masa lalu, rubuk ternyata mampu menyelesaikan hitungan-hitungan trigonometri yang cukup teliti untuk masa itu.

Kalkulator

Kalkulator merupakan alat bantu hitung yang paling praktis untuk menyelesaikan rumus-rumus hisab. Kalkulator yang memiliki fasilitas penyimpanan memori banyak untuk menyimpan hasil perhitungan sangat diutamakan. Akan lebih praktis lagi seandainya kalkulator juga dilengkapi dengan fasilitas pembuatan program untuk rumus-rumus yang ada. Beberapa kalkulator yang standard untuk melakukan hisab antara lain; KARCHE 4600SX, CASIO FX3600SP, CASIO fx4500P dsb.

Komputer

Selain kalkulator komputer merupakan alat bantu hitung canggih yang juga harus dimanfaatkan. Menggunakan program intrepreter BASIC, PASCAL, Delphi dsb memungkinkan kita menyusun program/software terhadap aplikasi falak bahkan kecuali dapat menghitung secara akurat, komputer dapat menampilkannya dalam bentuk gambar simulasi serta dapat dicetak dalam bentuk daftar melalui printer. Perkembangan teknologi membuat perhitungan falak yang semula sulit menjadi mudah. Maka berkembangkan program atau software-software khusu untuk keperluan falak. Lebih jauh mengenai software aplikasi falak ini dibahas di sesi software falak.

█  Alat Ukur Panjang

Alat ukur panjang (meteran) sangat diperlukan saat melakukan kegiatan rukyatul hilal terutama saat pemasangan gawang rukyat. Pembuatan garis-garis orientasi arah hilal dibuat dengan membuat garis lintas arah mata angin menggunakan arah matahari terbenam. Meteran juga diperlukan saat pengukuran arah kiblat terutama untuk membuat shaff atau meluruskan pondasi bangunan masjid yang akan dibangun. Meteran yang baik digunakan adalah meteran roll dengan panjang 50 meter dan terbuat dari bahan kain dan bukan logam.

█  Alat Ukur Waktu

Untuk mengukur waktu saat rukyatul hilal sebaiknya digunakan jam portabel digital dengan tampilan layar yang cukup besar. Sekarang model jam ini banyak dijual di pasaran dengan harga yang sangat murah. Lebih diutamakan jam yang memiliki lampu sehingga terlihat terang saat matahari sudah tenggelam. Beberapa jenis ponsel kini dilengkapi dengan jam yang dapat diseting tampilannya. Yang paling penting adalah mengkalibrasi/singkronisasi  jam sesuai waktu internet atau jam RRI atau TVRI atau menghubungi 105. Dengan cukup mencocokkan jam dan menitnya saja agar sesuai dengan hasil hisab.

█  Alat Penjejak Lokasi Geografis dan Aspek Cuaca

Menentukan posisi geografis setiap lokasi pengamatan hilal adalah sangat penting karena perbedaan lokasi pengamatan / matla akan sangat berpengaruh terhadap hasil hisab hilal di sutu tempat.  Adapun posisi geografis sutau daerah ditentukan besaran berupa Longitude/Bujur, Latitude/Lintang dan Altitude/Tinggi. Selain besaran tersebut juga biasanya diukur di tempat berupa kelembaban udara, tekanan udara, suhu udara,  kondisi awan, arah angin dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan cuaca. Tips berikut merupakan cara menyiapkan data geografis dan aspek cuaca lokasi rukyatul hilal.

Penentuan Posisi Geografis lokasi rukyat dapat dilakukan dengan beberapa cara :

  • Meminta data ke Bagian Pemetaan Wilayah Pemerintah Daerah setempat.
  • Menggunakan peta wilayah propinsi/kabupaten yang dilengkapi penggaris bujur-lintang.
  • Menggunakan Program Komputer Atlas seperti Atlas Encarta, Atlas Britanica dan World Map.
  • Mencari data lewat internet misalnya http://map.google.com – http://www.ilmuhikmah.com?earthtools.org atau  yang lain.
  • Mengunakan perangkan/alat yang disebut GPS (Global Positioning System) yang dapat menampilkan data
  •  geografis sebuah titik lokasi di permukaan bumi via satelit secara akurat. Alat yang sekilas mirip ponsel ini dapat
  • melakukan kontak dengan lebih dari 10 satelit di angkasa untuk mendapatkan data mengenai bujur dan lintanggeografis lokasi, ketinggian dari muka laut, tekanan udara  serta arah kompas yang benar.
  •    Pengukuran Ketinggian dari permukaan laut dan tekanan udara lokasi rukyat.
  • Menggunakan Altimeter yaitu alat pengukur ketinggian tempat dari permukaan laut (ada yang digital/analog).
  • Menggunakan Barometer yaitu alat pengukur tekanan udara.
  • Beberapa merek GPS juga dirancang dapat mengukur ketinggian dan tekanan udara.
  • Perkiraan langsung jika lokasi di daerah pantai misalnya 2 m di bibir pantai  atau 10 m jika lewat menara.

Pengukuran Suhu Udara dan Kelembaban Udara dapat dilakukan dengan menggunakan termometer kelembaban udara.

Pengukuran arah angin dapat dilakukan dengan cara perkiraan secara manual dengan melepas benda ringan maupun metode asap atau secara teliti menggunakan anemometer mangkok maupun pengukur kecepatan angin yang lain.

Pengamatan kondisi perawanan terutama di langit Barat tempat tenggelamnya matahari merupakan hal yang paling penting saat pelaksanaan rukyatul hilal, sebab tanpa kondisi langit yang cerah pengamatan hilal akan mengalami kesulitan bahkan mustahil dilakukan. Oleh sebab itulah maka perukyat juga dituntut memiliki pengetahuan meteorologi atau ilmu cuaca. Foto satelit kondisi awan realtime di atas langit Indonesia kini dapat diperoleh di beberapa situs cuaca diantaranya hasil foto Satelit Jepang dan Satelit Australia.

█  Alat Ukur Sudut ( Azimuth dan Ketinggian/Altitude/Irtifa’ )

Rubuk Mujayyab   Alat ini termasuk kuno peninggalan alhi-ahli Falak Islam jaman dulu. Bentuknya sangat sederhana yaitu berupa bangun 1/4 lingkaran yang pada pusatnya terdapat tali yang terhubung ke beban/bandul, namun kalo kita pelajari kegunaan alat ini ternyata ia dapat melakukan 1001 macam pengukuran dalam astronomis. Saat rukyatul hilal rubuk digunakan untuk mengukur sudut ketinggian hilal (irtifa’). Sering disebut dengan istilah kuadrant.

Tongkat Istiwa    Menggunakan sebatang tongkat yang ditancapkan secara tegak akan menghasilakan bayangan arah ketinggian matahari saat itu. Saat matahari tenggelam bayangan ini akan mamanjang sehingga dapat dijadikan sebagi acuan/patokan arah tenggelamnya matahari dengan menancapkan satu tongkat lagi pada lokasi lain. Titik tempat tenggelamnya matahari merupakan acuan menentukan posisi hilal yang baru akan terlihat 10-20 menit setelah matahari tenggelam.

Jam Istiwa/ Jam Surya Disebut juga dengan jam matahari (dlm bhs asing dinakmakan “sundial”) karena cara kerja alat ini adalah menggunakan bayangan matahari yang membentuk sudut tertentu.

Busur derajat setengah lingkaran dan busur derajat lingkaran penuh untuk membantu membuat garis orientasi arah hilal. Busur ini berdiameter lebih kurang 1 m agar diperoleh hasil ukur yang lebih teliti.

Waterpass untuk menstabilkan peralatan agar betul-betul datar posisinya.

Kompas   Kompas digunakan untuk menunjukkan arah Barat khususnya pada kondisi titik terbenamnya matahari tidak teridentifikasi.  Dengan bantuan kompas  sudut azimuth matahari dan hilal dapat diidentifikasi, ini akan mempermudah orientasi pencarian lokasi hilal. Terdapat bermacam jenis kompas misalnya kompas bidik pramuka, kompas suntoo, kompas DQL-1, kompas prismatik, kompas marine, kompas geologi dsb.

Bingkai/Gawang Rukyat  Berbentuk segi empat dengan tiang di bawahnya digunakan untuk orientasi pandangan lokasi hilal. Caranya dengan menempatkan alat di depan pengamat saat matahari terbenam dan pengamat akan melihat terus ke arah bingkai rukyat yang bisa diatur turun mengikuti gerakan hilal sampai terlihatnya hilal. Diperlukan kemampuan khusus mengoperasikan alat ini mengikuti arah gerakan hilal.

Sextan Biasa dugunakan oleh para pelaut untuk menentukan lokasi kapalnya berdasarkan penglihatan terhadap bintang tertentu. Alat ini mirip rubuk namun lebih kompleks karena menggukan sistem cermin. Saat rukyat alat ini dapat digunakan untuk mengukur ketinggian hilal (orientasi lokasi hilal). Alat ini sering disebut sebagai teropong TAMAYA.

Theodolit   Peralatan ini termasuk modern karena dapat mengukur sudut azimuth dan ketinggian/altitude (irtifa’) secara lebih teliti dibanding kompas dan rubuk. Theodolit yang modern dilengkapi pengukur sudut secara digital dan teropong pengintai yang cukup kuat. Theodolit biasanya digunakan oleh para ahli teknik sipil untuk pengukuran tanah dan bangunan.

█  Alat Bantu Optik

Kacamata  Digunakan oleh perukyat terutama orang yang sudah tua yang memiliki kesulitan penglihatan jarah jauh (rabun jauh) karena hilal memang berada pada jarak yang jauh. Sering digunakan adalah kacamata minus. Karena salah satu syarat seorang perukyat adalah penglihatannya masih baik menghindari salah lihat.

Binokuler  Disebut juga ‘keiger’/keker. Cara penggunaannya dengan ditempelkan langsung pada kedua mata, maka kita dapat melihat obyek yang berada pada jarak jauh. Kekuatan binokuler dinyatakan dengan pembesaran dan diameter lensa obyektifnya. Misalnya binokuler 10×50 artinya alat ini dapat membesarkan obyek hingga 10x dan diameter lensa obyektifnya 50 mm. Penggunaaan alat ini cukup efektif untuk membantu mengamati hilal.

Teleskop Rukyat  Teleskop rukyat tidak berbeda dengan teleskop astronomi pada umumnya yang juga disebut TEROPONG BINTANG namun dudukannya dirancang dapat bergerak 2 sumbu yaitu naik-turun (altitude) dan horisontal (azimuth) sehingga disebut dudukan alt-azimuth. Berbeda dengan jenis sumbu yang sering dipakai dalam astronomi yaitu menggunakan 3 sumbu yang disebut dudukan equatorial (EQ mount). Kekuatan teleskop dinyatakan dengan diameter lensa obyektif untuk refraktor dan diameter cermin obyektif untuk reflektor serta jarak fokur obyektif. Teleskop dengan spesifikasi 12″/3000 artinya diamter lensa/cermin adalah 8″ (sekitar 30 cm) dan jarak fokusnya 3000 mm. Kekuatan teleskop juga dinyatakan dengan pembesaran maksimumnya misalnya 500x dsb. Berdasarkan pengalaman lapangan teleskop tidak selalu efektif digunakan untuk rukyatul hilal. Hal ini mengingat ukuran hilal sudah cukup besar sekitar 30 arcminute atau 0,5 derajat busur sehingga dengan pembesaran 50x saja bulatan bulan sudah menutup medan pandang teleskop. Sebab yang diperlukan sebenarnya adalah bukan pembesaran obyek melainkan penguatan cahaya hilal yang sangat lemah dikuatkan oleh teleskop sehingga dapat terlihat oleh pengamat. Oleh sebab itu sangat cocok digunakan untuk rukyat adalah teleskop yang memiliki diameter lensa/cermin cukup besar agar dapat mengumpulkan cahaya lebih banyak serta memiliki medan pandang sekitar 1°saja. Hal yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan teleskop untuk rukyat adalah teknik “slewing” yaitu mengarahkan teleskop ke obyek hilal yang tidak terlihat. Ini adalah pekerjaan yang sangat sulit sebab mengarahkan teleskop ke arah bulan purnama yang pernah penulis coba saja sudah cukup merepotkan karena pada medan pandang yang sangat sempit gerakan sedikit saja sudah melenceng jauh dari obyeknya.

Teleskop Meade LX200 GPS 16″ merupakan contoh alat bantu rukyat yang memenuhi standar. Selain bentuknya yang ringkas juga teleskop ini dilengkapi teknologi GOTO dan Global Positioning System (GPS) yang terhubung langsung via satelit, selain itu ia juga memiliki cermin obyektif dengan diameter 16″ atau sekitar 40 cm dengan fokus 4000 mm.

Teleskop GOTO  Teleskop ini juga sebenarnya teleskop astronomis biasa. yang membedakan adalah pada sistem dudukannya yang dilengkapi dengan motor penggerak yang diatur komputer sehingga teleskop dapat secara otomatis mengarah ke obyek benda langit yang diinginkan. Dengan bantuan “hand controller” kita bisa memilih obyek benda langit misalnya “moon” lalu tekan [GOTO] maka secara otomatis teleskop akan mengarah ke bulan dan mengikuti gerakan bulan walau saat itu tidak kelihatan. Teleskop GOTO biasanya juga dilengkapi dengan teknologi GPS (Global Positioning System) yang mampu berkomunikasi dengan beberapa satelit untuk mengkofirmasi data geografis posisi/lokasi pengamatan secara presisi tanpa perlu kita memasukkan data. Teleskop inilah seharusnya yang perlu dimiliki oleh instansi-instansi terutama BHR Wilayah maupun Pusat sebab harganya yang cukup mahal. beberapa merek teleskop GOTO yang terkenal diantaranya : Meade, Celestron, Vixen, Konus, Orion, Televue dsb. Belakangan teknologi Charge-Coupled Device (CCD) menjadi alternatif pemindahan citra hasil penglihatan teleskop ke perangkat digital sehingga bisa disimpan dalam bentul video maupun image. caranya adalah dengan memasang kamera CCD langsung ke okuler (eyepice) yang disebut teknik afocal. Atau menggantikan okuler langsung dengan kamera CCD, sehingga pengamat cukup menyaksikannya dari layar TV atau komputer atau bahkan disiarkan secara langsung lewat stasiun TV nasional atau video streaming lewat internet sehingga masyarakat dapat turut menyaksikan.

Hight End Technologi  Penggunaan teknologi maju terkini nampaknya dapat menjadi alternatif alat bantu rukyatul hilal sejauh tidak menyimpang dari syariat yang digariskan. Kelemahan alat bantu optik adalah ia tidak dapat menembus saat hilal tertutup awan sehingga pemanfaatan pesawat terbang, teleskop radio, infra merah, radar, penginderaan satelit maupun penempatan radio sensor  di bulan dapat menjadi alternatif alat bantu rukyat hilal.  Manusia dengan kemampuan akal yang telah diberikan oleh Allah SWT berusaha setiap saat menciptakan alat-alat bantu bagi kemudahannya. Kini kembali kepada kita apakah kita akan memanfaatkan teknologi tersebut ataukah kita tetap bersikukuh dengan pendirian kita dan menikmati perbedaan-perbedaan yang terjadi. Wallahu alam.

█  Inovasi & Kreasi Alat bantu Rukyatul Hilal

Berikut ini beberapa alat hasil kreasi para perukyat baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebanyakan peralatan ini merupakan modifikasi dari peralatan yang sudah ada dengan harga lebih terjangkau:

Webcam Telescope   Ini merupakan peralatan bantu penglihatan memanfaatkan teknologi webcam yang terpasang pada PC atau laptop dan dipasang pada sistem lensa kamera tele (300 mm). Kemapuan alat ini dapat melihat dengan medan pandangan sekitar 45 arcminute atau sekitar 0,75 derajat dan cukup bagus untuk melihat bulan. Kemampuan lain alat ini adalah dapat merekam kenampakan hilal dalam format video maupun citra gambar foto sehingga dapat dijadikan bukti saat pelaporan. Sampai saat ini masih kami masih mengadakan penyempurnaan terutama untuk sistem dudukan (mounting) agar dapat secara otomatis mengikuti gerakan bulan.

Hilal Tracker  adalah penyederhanaan dari gawang rukyat. Dengan alat seukuran kertas folio ini kita dapat mencari orientasi posisi hilal saat sunset. Kemudahan alat ini adalah mudah dibawa dan digunakan. Perukyat hanya cukup merentangkannya di depan mata dan mengarahkannya di tempat matahari terbenam.
(Sumber : rukyatulhilal.org)

 

adalah mudah dibawa dan digunakan. Perukyat hanya cukup merentangkannya di depan mata dan mengarahkannya di tempat matahari terbenam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>